Indef Nilai Pelemahan Rupiah Dipicu Tekanan Global, Bukan Masalah Fundamental

Daftar Isi

Indef Nilai Pelemahan Rupiah Dipicu Tekanan Global, Bukan Masalah Fundamental

Nilai tukar Rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah laporan Forbes menempatkan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang paling melemah secara global pada 2026. Dalam pergerakan terbaru, kurs Rupiah bahkan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak bisa langsung diartikan sebagai cerminan melemahnya fondasi ekonomi nasional

Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Solid

Menurut Rizal, sejumlah indikator utama menunjukkan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap bergerak dalam tren positif, sementara defisit eksternal masih berada pada level yang terkendali. Di sisi lain, posisi cadangan devisa dinilai cukup memadai untuk menopang stabilitas nilai tukar.

Ia menilai pelemahan Rupiah lebih dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global yang sarat dengan sentimen dan ekspektasi. Faktor seperti potensi suku bunga global yang bertahan tinggi dalam jangka waktu panjang, penguatan dolar AS sebagai aset lindung nilai, serta arus keluarnya modal asing dari negara berkembang menjadi tekanan utama bagi Rupiah.

“Pergerakan mendekati Rp17.000 per dolar lebih mencerminkan respons psikologis investor dan dinamika arus modal global, bukan indikasi rapuhnya struktur ekonomi domestik,” ujar Rizal, Minggu (18/1/2026).

Dampak ke Sektor Usaha Tetap Perlu Diwaspadai

Meski fundamental ekonomi masih terjaga, Rizal mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar yang berlangsung lama berpotensi menimbulkan tekanan pada sektor-sektor tertentu. Industri yang bergantung pada bahan baku impor berisiko menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama di sektor manufaktur.

Selain itu, sektor transportasi dan energi yang memiliki kewajiban utang dalam mata uang asing tanpa perlindungan nilai (hedging) juga berpotensi mengalami penurunan profitabilitas akibat selisih kurs. Sebaliknya, sektor berbasis ekspor, khususnya komoditas, berpeluang menikmati keuntungan jangka pendek, meski manfaat tersebut tetap bergantung pada pergerakan harga global.

Peran Bank Indonesia Jaga Stabilitas Sentimen

Rizal menilai tantangan utama Bank Indonesia saat ini bukan semata-mata mempertahankan Rupiah pada level tertentu, melainkan menjaga stabilitas ekspektasi pasar. Menurutnya, pengelolaan volatilitas yang terukur serta komunikasi kebijakan yang jelas dan konsisten menjadi kunci untuk meredam tekanan sentimen.

Langkah tersebut dinilai penting agar gejolak pasar keuangan tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar dan mengganggu proses pemulihan serta pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.


Posting Komentar