Cerita Jani, Bayi Orangutan yang Ditemukan Sendirian di Areal Perkebunan Sawit Ketapang

Daftar Isi

Cerita Jani, Bayi Orangutan yang Ditemukan Sendirian di Areal Perkebunan Sawit Ketapang 

KETAPANG – Seekor bayi orangutan betina ditemukan tanpa induk di area perkebunan kelapa sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Anak orangutan tersebut kemudian diberi nama Jani oleh tim penyelamat.

Penemuan ini ditindaklanjuti oleh tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi KSDA Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Petugas sempat melakukan pemantauan dan pencarian induk di sekitar lokasi selama beberapa hari, namun keberadaan induknya tidak pernah terlihat.

Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan bahwa di alam bebas, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia enam sampai delapan tahun. Ketergantungan itu mencakup perlindungan dari ancaman, pemenuhan kebutuhan makan, hingga proses belajar bertahan hidup.

“Ketika terpisah dari induknya, anak orangutan menghadapi risiko yang sangat tinggi, baik dari faktor lingkungan maupun keterbatasan kemampuan bertahan hidup,” ujar Komara dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).

Proses Evakuasi Dilakukan Tanpa Anestesi

Keberadaan Jani pertama kali diketahui warga sekitar yang melihat bayi orangutan itu berada sendirian di tengah kebun sawit tanpa tanda-tanda keberadaan induk. Kondisinya terlihat lemah, minim pergerakan, dan seolah menunggu kehadiran induknya.

Tim penyelamat kemudian melakukan evakuasi secara hati-hati. Komara menyebutkan, proses penyelamatan dilakukan tanpa menggunakan obat bius karena usia Jani masih sangat muda sehingga anestesi dinilai berisiko.

Setelah diamankan, Jani dimasukkan ke dalam kandang khusus dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, usia Jani diperkirakan sekitar lima tahun, usia yang seharusnya masih berada dalam asuhan induknya di alam liar.

Menjalani Karantina dan Pemantauan

Saat ini, Jani ditempatkan di fasilitas karantina YIARI. Ia akan menjalani pemeriksaan medis lanjutan serta pemantauan kondisi fisik dan psikologis hingga tingkat stresnya menurun dan kondisinya stabil.

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kejadian ini kembali menegaskan tingginya tekanan terhadap satwa liar akibat rusaknya habitat dan terfragmentasinya kawasan hutan.

Ia mengapresiasi respons cepat masyarakat, mitra lapangan, serta BKSDA Kalimantan Barat dalam penanganan kasus ini. Menurutnya, upaya pencegahan melalui edukasi dan penyadartahuan masyarakat menjadi langkah penting agar peristiwa serupa tidak terus berulang.

“Kami bersama BKSDA Kalbar akan terus memantau kondisi Jani dan mengevaluasi kemungkinan penyebab terpisahnya ia dari induknya,” ujar Silverius.

Tim juga masih melakukan penyisiran di sekitar perkebunan untuk mencari keberadaan induk Jani. Apabila induknya ditemukan, Jani akan dikembalikan dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Namun, jika tidak ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga cukup usia dan siap dilepasliarkan ke habitat yang layak.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan bahwa kasus Jani mencerminkan dampak nyata tekanan terhadap habitat orangutan. Ia menekankan pentingnya peran semua pihak dalam menjaga kelestarian orangutan beserta habitatnya.

Upaya Pelepasliaran Orangutan Lain

Sebagai bagian dari upaya konservasi, YIARI bersama tim gabungan sebelumnya juga telah melepasliarkan tiga orangutan kalimantKETAPANG – Seekor bayi orangutan betina ditemukan tanpa induk di area perkebunan kelapa sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Anak orangutan tersebut kemudian diberi nama Jani oleh tim penyelamat.

Penemuan ini ditindaklanjuti oleh tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi KSDA Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Petugas sempat melakukan pemantauan dan pencarian induk di sekitar lokasi selama beberapa hari, namun keberadaan induknya tidak pernah terlihat.

Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan bahwa di alam bebas, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia enam sampai delapan tahun. Ketergantungan itu mencakup perlindungan dari ancaman, pemenuhan kebutuhan makan, hingga proses belajar bertahan hidup.

“Ketika terpisah dari induknya, anak orangutan menghadapi risiko yang sangat tinggi, baik dari faktor lingkungan maupun keterbatasan kemampuan bertahan hidup,” ujar Komara dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).

Proses Evakuasi Dilakukan Tanpa Anestesi

Keberadaan Jani pertama kali diketahui warga sekitar yang melihat bayi orangutan itu berada sendirian di tengah kebun sawit tanpa tanda-tanda keberadaan induk. Kondisinya terlihat lemah, minim pergerakan, dan seolah menunggu kehadiran induknya.

Tim penyelamat kemudian melakukan evakuasi secara hati-hati. Komara menyebutkan, proses penyelamatan dilakukan tanpa menggunakan obat bius karena usia Jani masih sangat muda sehingga anestesi dinilai berisiko.

Setelah diamankan, Jani dimasukkan ke dalam kandang khusus dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, usia Jani diperkirakan sekitar lima tahun, usia yang seharusnya masih berada dalam asuhan induknya di alam liar.

Menjalani Karantina dan Pemantauan

Saat ini, Jani ditempatkan di fasilitas karantina YIARI. Ia akan menjalani pemeriksaan medis lanjutan serta pemantauan kondisi fisik dan psikologis hingga tingkat stresnya menurun dan kondisinya stabil.

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kejadian ini kembali menegaskan tingginya tekanan terhadap satwa liar akibat rusaknya habitat dan terfragmentasinya kawasan hutan.

Ia mengapresiasi respons cepat masyarakat, mitra lapangan, serta BKSDA Kalimantan Barat dalam penanganan kasus ini. Menurutnya, upaya pencegahan melalui edukasi dan penyadartahuan masyarakat menjadi langkah penting agar peristiwa serupa tidak terus berulang.

“Kami bersama BKSDA Kalbar akan terus memantau kondisi Jani dan mengevaluasi kemungkinan penyebab terpisahnya ia dari induknya,” ujar Silverius.

Tim juga masih melakukan penyisiran di sekitar perkebunan untuk mencari keberadaan induk Jani. Apabila induknya ditemukan, Jani akan dikembalikan dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Namun, jika tidak ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga cukup usia dan siap dilepasliarkan ke habitat yang layak.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan bahwa kasus Jani mencerminkan dampak nyata tekanan terhadap habitat orangutan. Ia menekankan pentingnya peran semua pihak dalam menjaga kelestarian orangutan beserta habitatnya.

Upaya Pelepasliaran Orangutan Lain

Sebagai bagian dari upaya konservasi, YIARI bersama tim gabungan sebelumnya juga telah melepasliarkan tiga orangutan kalimantan bernama Badul, Korwas, dan Asoka ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Barat.

Kawasan tersebut dinilai aman karena berstatus area konservasi dengan pengawasan rutin melalui patroli. Sebelum dilepasliarkan, ketiga orangutan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, penimbangan berat badan, serta identifikasi menggunakan microchip.

Pasca pelepasliaran, tim YIARI dan Balai TNBBBR akan terus melakukan pemantauan untuk memastikan ketiganya mampu beradaptasi, mencari pakan, membuat sarang, dan mempertahankan perilaku alaminya di habitat baru.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat populasi orangutan kalimantan dalam jangka panjang sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mengingat peran penting orangutan sebagai penyebar biji dan penjaga regenerasi hutan.an bernama Badul, Korwas, dan Asoka ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Barat.

Kawasan tersebut dinilai aman karena berstatus area konservasi dengan pengawasan rutin melalui patroli. Sebelum dilepasliarkan, ketiga orangutan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, penimbangan berat badan, serta identifikasi menggunakan microchip.

Pasca pelepasliaran, tim YIARI dan Balai TNBBBR akan terus melakukan pemantauan untuk memastikan ketiganya mampu beradaptasi, mencari pakan, membuat sarang, dan mempertahankan perilaku alaminya di habitat baru.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat populasi orangutan kalimantan dalam jangka panjang sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mengingat peran penting orangutan sebagai penyebar biji dan penjaga regenerasi hutan.

Posting Komentar