Ekonomi China 2025 Sesuai Target, Tapi Permintaan Domestik Masih Melemah
Perekonomian Tiongkok berhasil mencatat pertumbuhan 5,0% sepanjang tahun 2025, sesuai dengan sasaran resmi pemerintah dan sejajar dengan capaian tahun sebelumnya. Meski demikian, data terbaru dari National Bureau of Statistics (NBS) mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun.
Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi China tercatat sebesar 4,5% secara tahunan, melambat dari kuartal III yang berada di level 4,8%. Walaupun angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 4,4%, laju tersebut menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir.
Ekspor Kuat, Konsumsi dan Properti Tertekan
Kinerja ekonomi China pada 2025 menunjukkan kontras yang cukup tajam antar sektor. Di satu sisi, sektor manufaktur dan ekspor masih menjadi penopang utama pertumbuhan. China bahkan membukukan surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarah, mencapai sekitar US$ 1,2 triliun, didorong oleh perluasan pasar ekspor ke luar Amerika Serikat guna mengurangi dampak kebijakan tarif Washington.
Namun di sisi lain, kondisi permintaan dalam negeri belum menunjukkan pemulihan yang solid. Penjualan ritel pada Desember hanya tumbuh 0,9%, jauh dari harapan pasar. Tekanan paling berat datang dari sektor properti, dengan investasi anjlok hingga 17,2%. Dampaknya merembet ke investasi aset tetap yang secara keseluruhan turun 3,8%, menandai kontraksi tahunan pertama sejak 1996.
Implikasi bagi Perekonomian Indonesia
Sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, dinamika ekonomi China memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja ekonomi nasional, terutama melalui jalur perdagangan dan investasi.
1. Perdagangan Luar Negeri
China menyerap sekitar 23,8% dari total ekspor nonmigas Indonesia. Selama periode Januari–November 2025, nilai ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 58,24 miliar atau setara hampir Rp 1.000 triliun.
Beberapa komoditas utama menunjukkan tren yang beragam. Ekspor besi dan baja serta nikel dan turunannya masih mencatatkan pertumbuhan dua digit, mencerminkan kuatnya permintaan China terhadap produk hilirisasi logam. Sebaliknya, ekspor bahan bakar mineral mengalami penurunan signifikan, sejalan dengan perubahan struktur kebutuhan energi di China.
2. Aliran Investasi Asing
Di sektor penanaman modal asing, China menempati posisi ketiga sebagai investor terbesar di Indonesia pada 2025 dengan nilai sekitar US$ 7,5 miliar, berada di bawah Singapura dan Hong Kong. Sejak lonjakan besar pada 2022, investasi China relatif stabil di kisaran US$ 7–8 miliar per tahun, menjadikannya salah satu sumber pendanaan penting bagi proyek infrastruktur dan pengembangan industri di Indonesia.
Tantangan 2026: Tekanan Global dan Proteksionisme
Memasuki 2026, prospek ekonomi China menghadapi tantangan eksternal yang tidak ringan. Kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dinilai berpotensi kembali mengarah pada proteksionisme, termasuk ancaman kenaikan tarif tambahan.
Kondisi ini menjadi risiko bagi model pertumbuhan China yang masih sangat bergantung pada ekspor. Sejumlah lembaga internasional, seperti IMF dan Bank Dunia, terus mendorong pemerintah China untuk mempercepat reformasi struktural, khususnya dengan memperkuat konsumsi rumah tangga agar perekonomian lebih seimbang dan tidak terlalu bertumpu pada investasi fisik maupun permintaan global.

Posting Komentar