Kenapa Investor Teknologi Perlu Melirik Saham Tambang Ini di Era AI

Daftar Isi

Kenapa Investor Teknologi Perlu Melirik Saham Tambang Ini di Era AI

Tahun 2026 kerap disebut sebagai fase kematangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Banyak investor teknologi merasa sudah berada di jalur aman karena portofolionya dipenuhi saham raksasa teknologi, mulai dari kelompok Magnificent Seven hingga emiten semikonduktor papan atas. Namun, ada satu celah risiko yang sering luput dari perhatian: keterbatasan infrastruktur fisik.

AI bukanlah entitas abstrak yang sepenuhnya hidup di “awan”. Cloud computing sejatinya adalah kumpulan pusat data raksasa yang dipenuhi server, sistem pendingin, dan jaringan kabel dalam jumlah masif. Komponen paling vital dari seluruh infrastruktur tersebut adalah tembaga, material utama penghantar listrik dan data.

Ketika emas melesat karena kekhawatiran inflasi global, tembaga justru bersiap naik karena lonjakan kebutuhan komputasi. Data pasar hingga pertengahan Januari 2026 menunjukkan saham Southern Copper (SCCO) telah melonjak sekitar 84% dalam setahun terakhir—sebuah sinyal kuat bahwa pasar mulai membaca arah kebutuhan masa depan.

Artikel ini mengulas mengapa gelombang kedua investasi AI justru berpotensi lebih optimal melalui saham tambang tembaga, bukan semata saham pembuat chip yang kini relatif mahal. Akses investasi ini pun dapat dilakukan dengan mudah lewat aplikasi Pluang.


Ledakan AI = Ledakan Logam

1. AI Sang Rakus Energi

Satu permintaan pada platform AI generatif memerlukan konsumsi listrik berkali-kali lipat dibanding pencarian internet konvensional. Model AI terbaru di 2026 membutuhkan daya komputasi yang meningkat secara eksponensial.

Dampaknya:

  • Raksasa teknologi global berlomba membangun pusat data baru.

  • Infrastruktur AI tidak hanya bergantung pada perangkat lunak, tetapi juga server, chip, dan logam.

  • Tembaga menjadi kunci karena kemampuannya menghantarkan listrik dan panas secara efisien.

Setiap ekspansi data center berarti peningkatan kebutuhan kabel dan komponen berbasis tembaga dalam skala besar.

2. Keterkaitan dengan Kendaraan Listrik

Di luar AI, revolusi kendaraan listrik (EV) masih terus berlanjut.

  • Mobil listrik membutuhkan sekitar empat kali lebih banyak tembaga dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.

  • Elektrifikasi transportasi dan AI berjalan beriringan, menciptakan permintaan struktural yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap tembaga.

Mengabaikan tembaga sama saja seperti mengembangkan software tercanggih tanpa memastikan ketersediaan infrastruktur listriknya.


Ketimpangan Pasokan dan Permintaan

Dalam dunia teknologi, harga biasanya turun seiring waktu. Namun pada komoditas tambang, kelangkaan justru mendorong kenaikan harga.

Masalah utama: pasokan tertinggal jauh dari permintaan.

  • Pengembangan tambang tembaga baru membutuhkan waktu 10–15 tahun.

  • Produksi tidak bisa ditingkatkan secara instan seperti mengembangkan aplikasi digital.

Akibatnya, kenaikan harga menjadi mekanisme alami untuk menyeimbangkan pasar.


China Kembali Berperan Besar

Faktor penting lain adalah China.

  • Negeri ini kembali menggenjot stimulus dan proyek infrastruktur.

  • Saat China meningkatkan konsumsi tembaga, persaingan global atas stok logam ini semakin ketat.

  • Perusahaan teknologi AS dan industri manufaktur China kini berebut sumber daya yang sama.


Mengulas Emiten Tambang Unggulan

1. Southern Copper Corporation (SCCO)

  • Salah satu produsen tembaga terintegrasi terbesar dunia.

  • Memiliki cadangan tembaga yang sangat besar dan sulit tergantikan.

  • Kenaikan harga saham mencerminkan meningkatnya kesadaran pasar atas nilai strategis cadangan fisik.

2. Freeport-McMoRan (FCX)

  • Relevan bagi investor Indonesia karena kepemilikan Tambang Grasberg di Papua.

  • Grasberg diproyeksikan kembali beroperasi penuh pada 2026.

  • Saham FCX berpotensi tertinggal dari kenaikan harga tembaga dan emas, menciptakan peluang valuasi menarik.

  • Cocok bagi investor yang gemar mencari saham undervalued dengan fundamental kuat.


Strategi “Pick and Shovel” di Era AI

Dalam demam emas abad ke-19, pihak yang paling konsisten meraup untung bukan para penambang, melainkan penjual alat tambang.

Di era AI:

  • Penambang emasnya: perusahaan AI dan big tech.

  • Penjual sekopnya: produsen chip dan perusahaan tambang tembaga.

Apa pun platform AI yang menang, semuanya membutuhkan infrastruktur berbasis tembaga. Inilah investasi yang tidak bergantung pada siapa pemenang perang AI.


Eksekusi Strategi Lewat Pluang

  • 24-Hour Market: memungkinkan transaksi saham AS di luar jam bursa reguler.

  • Fractional Shares: beli saham AS mulai dari pecahan kecil.

  • USD Yield: parkir dana hasil profit untuk tetap menghasilkan imbal hasil sambil menunggu peluang masuk.


Risiko yang Perlu Diperhatikan

  • Perlambatan ekonomi global bisa menekan harga komoditas.

  • Risiko geopolitik dan kebijakan nasionalisasi tambang tetap ada, sehingga diversifikasi penting.


Menyempurnakan Portofolio AI

Portofolio teknologi tanpa eksposur ke tembaga ibarat kendaraan listrik tanpa sumber daya. AI bukan hanya tentang algoritma, tetapi juga tentang kebutuhan fisik yang nyata.

Dengan kinerja solid SCCO dan potensi pemulihan FCX, saham tambang tembaga menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang dengan valuasi yang relatif rasional.

Investasi ini membantu investor memahami ekosistem AI secara menyeluruh—dari chip di pusat data hingga logam di dalam bumi.

Catatan: Pluang berizin dan diawasi OJK dan/atau Bappebti untuk produk dan layanan tertentu.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.

Posting Komentar