Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Sekutu Iran Bersatu Usai Armada AS Dikerahkan
Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Sekutu Iran Bersatu Usai Armada AS Dikerahkan
Jakarta – Eskalasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, memperingatkan bahwa setiap aksi militer terhadap Iran akan dianggap sebagai serangan langsung terhadap kelompoknya. Pernyataan tersebut membuka peluang terjadinya konflik regional yang lebih luas, seiring bertambahnya kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada Senin (25/1/2026), Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan bersikap pasif apabila Teheran menjadi target serangan. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya konsentrasi kekuatan militer AS di kawasan Teluk.
Meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi sinyal penahanan diri dari intervensi militer langsung, ia tetap menyebut opsi tersebut belum sepenuhnya dikesampingkan.
Berbicara di hadapan massa pendukung Iran dalam sebuah aksi solidaritas, Qassem menyatakan bahwa Hizbullah dan Iran kini menghadapi bentuk tekanan dan ancaman yang serupa. Ia menilai potensi konflik baru akan membawa konsekuensi besar bagi stabilitas kawasan.
“Kami akan menentukan sikap pada waktu yang tepat, namun kami tidak berada di posisi netral,” ujarnya, seperti dikutip AFP.
Ia menambahkan bahwa langkah yang akan diambil Hizbullah sepenuhnya akan disesuaikan dengan dinamika di lapangan serta kepentingan strategis yang ada.
Iran selama puluhan tahun dikenal sebagai pendukung utama Hizbullah, baik dalam bentuk pendanaan maupun suplai persenjataan sejak kelompok tersebut berdiri pada era 1980-an.
Qassem juga mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir, pihaknya menerima pesan melalui mediator yang menanyakan secara tegas apakah Hizbullah akan terlibat jika terjadi konfrontasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Mereka menginginkan jaminan bahwa kami tidak akan ikut campur,” katanya.
Meski konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah selama lebih dari satu tahun sebagian besar mereda lewat gencatan senjata pada November 2024, dampaknya dinilai melemahkan kapasitas kelompok tersebut. Di saat yang sama, pemerintah Lebanon mulai menjalankan rencana pelucutan senjata Hizbullah, dimulai dari wilayah selatan.
Kataib Hizbullah di Irak Siap Terjun Jika Iran Diserang
Di Irak, kelompok paramiliter Kataib Hizbullah turut mengeluarkan pernyataan keras terkait potensi serangan terhadap Iran. Kelompok yang juga mendapat dukungan Teheran ini menyatakan kesiapan penuh untuk terlibat dalam konflik bersenjata demi membela Iran.
Pemimpin Kataib Hizbullah, Abu Hussein al-Hamidawi, menyerukan kepada para anggotanya untuk bersiaga menghadapi kemungkinan perang. Ia menuduh adanya kekuatan asing yang berupaya melemahkan dan menghancurkan Iran, yang disebutnya sebagai simbol kekuatan umat Muslim.
“Perang melawan Republik Islam bukanlah hal yang mudah,” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera. Ia menegaskan bahwa musuh akan menghadapi konsekuensi berat jika konflik benar-benar terjadi.
Al-Hamidawi mengisyaratkan bahwa situasi kali ini berbeda dibandingkan serangan Israel dan AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu, ketika kelompok-kelompok dalam poros perlawanan tidak turun tangan secara langsung. Menurutnya, dukungan penuh terhadap Iran kini menjadi keharusan.
Kataib Hizbullah sendiri merupakan salah satu faksi terbesar dalam Popular Mobilisation Forces (PMF), yang dibentuk pada 2014 untuk melawan kelompok ISIS di Irak.
Kapal Induk AS Hadir, Risiko Konflik Kian Terbuka
Sementara itu, armada laut Amerika Serikat yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, beserta sejumlah kapal perusak bersenjata rudal, telah memasuki kawasan Timur Tengah dan berada dalam jangkauan operasional terhadap Iran. Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah kehadiran ini akan memicu gelombang protes besar di dalam negeri AS.
Beberapa negara di kawasan, termasuk Uni Emirat Arab, menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairannya digunakan untuk serangan terhadap Iran. Namun, kehadiran kapal induk AS di Laut Mediterania dinilai memberi Washington fleksibilitas tanpa harus bergantung pada izin negara ketiga.
Militer AS juga mengumumkan akan menggelar latihan militer di kawasan tersebut sebagai unjuk kemampuan pengerahan dan pertahanan kekuatan udara tempur.
Para pengamat menilai potensi serangan kali ini tidak lagi berfokus pada program nuklir Iran, yang sebelumnya telah terdampak signifikan dalam konflik 12 hari pada Juni lalu. Target yang lebih mungkin adalah kepemimpinan politik Iran, dengan tujuan memicu tekanan domestik di tengah memburuknya kondisi ekonomi. Data resmi menunjukkan tingkat inflasi Iran telah mencapai sekitar 60% dalam sebulan terakhir.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding Amerika Serikat tengah berupaya merusak persatuan sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer. Ia menilai narasi darurat yang dibangun oleh Presiden Trump merupakan bagian dari strategi konflik itu sendiri.
“Upaya memecah kohesi publik adalah langkah awal sebelum agresi militer dilakukan,” ujar Larijani, dikutip The Guardian.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah laporan yang menyebut adanya kontak diplomatik antara utusan khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Baghaei menegaskan bahwa militer Iran terus memantau setiap pergerakan pasukan asing di kawasan dan memperingatkan bahwa ancaman militer bertentangan dengan prinsip hukum internasional.
“Jika prinsip-prinsip tersebut dilanggar, dampak ketidakamanan akan dirasakan semua pihak,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa Iran siap memberikan respons menyeluruh terhadap setiap bentuk agresi.

Posting Komentar