Melonjak Tanpa Henti! Harga Emas Kembali Pecahkan Rekor, Dekati US$5.000
Melonjak Tanpa Henti! Harga Emas Kembali Pecahkan Rekor, Dekati US$5.000
JAKARTA – Tren penguatan harga emas dunia belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Pada perdagangan pekan ini, logam mulia kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, didorong kombinasi ketidakpastian geopolitik global, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), serta harapan pasar akan pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026) berada di level US$4.982,57 per troy ons, menguat 0,94% dalam sehari. Sepanjang sepekan terakhir, harga emas telah melonjak tajam dengan kenaikan sekitar 8,84% secara point-to-point.
Capaian tersebut menempatkan emas di posisi tertinggi sepanjang masa dan semakin mendekati level psikologis US$5.000 per troy ons, yang kini menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Geopolitik & Pelemahan Dolar Dorong Minat Safe Haven
Kenaikan harga emas terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global, mulai dari instabilitas di Venezuela hingga polemik terkait Greenland. Situasi ini mendorong investor kembali mencari aset lindung nilai, dengan emas menjadi pilihan utama.
Di saat bersamaan, nilai tukar dolar AS terus tertekan. Indeks dolar (DXY) pada perdagangan terakhir pekan ini turun 0,92% ke level 97,45, dan secara mingguan telah melemah hampir 2%. Pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lain.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyebut bahwa kombinasi faktor makro masih menjadi penopang kuat permintaan emas.
“Ketegangan geopolitik, dolar yang cenderung melemah, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini merupakan bagian dari tren de-dolarisasi global dan terus mendukung permintaan emas,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/1/2026).
Suku Bunga The Fed Jadi Kunci
Dari sisi kebijakan moneter, pasar semakin yakin The Fed akan memangkas suku bunga acuan. Data terbaru Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS menunjukkan belanja konsumen masih meningkat pada Oktober dan November 2025, menandakan ekonomi AS tetap solid selama tiga kuartal berturut-turut.
Meski demikian, pasar memperkirakan bank sentral AS akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada paruh kedua 2026. Prospek ini meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Grant menambahkan bahwa setiap koreksi jangka pendek berpotensi dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi.
“Level US$5.000 per troy ons kini sudah sangat dekat. Setelah itu, proyeksi teknikal Fibonacci di sekitar US$5.187 per troy ons menjadi target yang realistis,” ujarnya.
Dengan kondisi global yang masih sarat ketidakpastian, emas diperkirakan tetap menjadi primadona pasar dalam waktu dekat, terutama sebagai aset perlindungan nilai di tengah dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global.

Posting Komentar