Pernyataan Trump Tekan Dolar AS, Presiden AS Klaim Tak Cemas Nilai Tukar Terus Melemah

Daftar Isi

Pernyataan Trump Tekan Dolar AS, Presiden AS Klaim Tak Cemas Nilai Tukar Terus Melemah 

Jakarta – Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya tidak merasa khawatir terhadap penurunan mata uang negaranya dalam beberapa hari terakhir. Sikap tersebut justru memicu kegelisahan pelaku pasar valuta asing, yang menilai arah kebijakan pemerintahan Trump semakin sulit diprediksi.

Pelemahan dolar terjadi bersamaan dengan lonjakan harga emas yang kembali mencetak rekor tertinggi pada Rabu (28/1/2026). Harga logam mulia tersebut menembus level US$5.200 per troy ounce dan sempat menguat hingga 0,7% ke posisi US$5.218, setelah sehari sebelumnya melonjak sekitar 3%.

Secara keseluruhan, dolar AS tercatat melemah sekitar 1,3% terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Posisi ini menempatkan dolar di level terendah dalam empat tahun terakhir, dengan pelemahan kumulatif mencapai 2,6% sejak awal 2026. Pada perdagangan Rabu, dolar kembali terkoreksi tipis sekitar 0,1%.

Di sisi lain, mata uang utama Eropa mencatatkan penguatan signifikan. Euro dan poundsterling Inggris masing-masing menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2021. Euro menguat sekitar 1,4% ke kisaran US$1,204, sementara poundsterling naik 1,2% menjadi sekitar US$1,384 terhadap dolar AS.

Yen Jepang juga melanjutkan tren penguatan selama tiga hari berturut-turut. Mata uang Negeri Sakura tersebut sempat menyentuh level ¥152,3 per dolar AS, mendekati posisi yang terakhir terlihat saat pengangkatan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Oktober lalu, yang kala itu memicu tekanan jual berkepanjangan di pasar.

Tekanan baru terhadap dolar dipicu oleh pernyataan Trump dalam sebuah acara di Iowa, ketika ia ditanya apakah merasa khawatir atas penurunan nilai dolar. Trump menjawab singkat bahwa dirinya tidak cemas dan bahkan menilai kondisi tersebut sebagai sesuatu yang positif.

“Perhatikan nilai dolar dan aktivitas bisnis yang terjadi. Dolar berada dalam kondisi yang baik,” ujar Trump, sebagaimana dikutip oleh Financial Times.

Peralihan investor ke aset lindung nilai juga semakin terlihat. Selain emas, harga perak tercatat melonjak tajam lebih dari 8% hingga menembus level US$112 per ons pada Selasa.

Kepala investasi multi-aset Royal London Asset Management menilai kombinasi kenaikan emas dan pelemahan dolar mencerminkan keraguan pasar terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump yang dianggap tidak konsisten dan berisiko. Penilaian ini turut dipengaruhi oleh langkah-langkah agresif AS terhadap negara mitra seperti Kanada dan Korea Selatan.

Ia juga menyoroti spekulasi bahwa Amerika Serikat dan Jepang berpotensi melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk meredam pelemahan yen. Menurutnya, hal tersebut memperkuat persepsi bahwa pembuat kebijakan tidak terlalu memperhitungkan risiko penurunan nilai dolar.

Sementara itu, analis dari MUFG menyebut euro semakin diuntungkan oleh posisinya sebagai alternatif terhadap dolar AS, di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom AS Jefferies, Thomas Simons. Ia menilai ketidakpastian kebijakan AS membuat dolar rentan tertekan, meski aset berisiko lainnya masih menunjukkan kinerja positif. Menurutnya, tema “menjual aset Amerika” kembali mengemuka dan investor global belum yakin bahwa pelemahan dolar telah mencapai titik terendah.

Tekanan terhadap dolar juga diperburuk oleh risiko penutupan sebagian pemerintahan federal AS yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Sejumlah senator dari Partai Demokrat mengancam akan menahan dukungan terhadap rancangan pendanaan, khususnya yang mencakup Departemen Keamanan Dalam Negeri, kecuali dilakukan perubahan signifikan pada kebijakan penegakan imigrasi.

Selain itu, pasar turut mencermati ketidakpastian terkait sosok yang akan ditunjuk Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve, mengingat masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei mendatang.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan negara-negara sekutu NATO juga dinilai menambah tekanan, terutama setelah munculnya tuntutan Trump terkait Greenland, wilayah otonom milik Denmark.

“Isu Greenland kembali meningkatkan premi risiko terhadap dolar,” ujar ahli strategi valuta asing senior Barclays, Lefteris Farmakis.

Menurutnya, terganggunya tatanan global pasca-Perang Dunia II menjadi sentimen negatif jangka panjang bagi dolar AS, karena mendorong investor global untuk mengurangi eksposur aset berbasis dolar atau meningkatkan strategi lindung nilai.


Posting Komentar