Poros Baru Ottawa-Beijing: Strategi Kanada Lepas dari Bayang-Bayang Tarif Trump
Poros Baru Ottawa-Beijing: Strategi Kanada Lepas dari Bayang-Bayang Tarif Trump
Hubungan diplomatik antara Kanada dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase paling kritis sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih. Di tengah ancaman tarif tinggi yang dilancarkan Washington, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengambil langkah pragmatis dengan mempererat kerja sama ekonomi bersama China.
Langkah ini dianggap sebagai upaya diversifikasi paksa, mengingat ekonomi Kanada selama ini sangat bergantung pada AS yang menyerap hingga 76% dari total ekspor mereka.
Kesepakatan Besar: EV China dan Komoditas Pertanian Kanada
Dalam kunjungan bersejarah ke Beijing—kunjungan PM Kanada pertama sejak 2017—Carney mengumumkan kesepakatan dagang awal yang secara signifikan memangkas hambatan tarif. Fokus utamanya adalah pada sektor kendaraan listrik (EV) dan hasil bumi.
Berikut adalah ringkasan perubahan tarif dalam kesepakatan tersebut:
| Komoditas / Sektor | Kebijakan Lama (Justin Trudeau) | Kebijakan Baru (Mark Carney) | Dampak Ekonomi |
| Kendaraan Listrik (EV) | Tarif 100% | 6,1% (Kuota 49.000 unit) | Akses teknologi & investasi otomotif China |
| Biji Canola | Tarif Gabungan 84% | 15% (Per 1 Maret 2026) | Membuka pasar senilai US$4 miliar |
| Produk Laut & Kacang | Tarif Anti-Diskriminasi | Bebas Tarif (Hingga akhir 2026) | Pesanan ekspor senilai US$3 miliar |
PM Carney menegaskan bahwa penurunan tarif EV dari 100% menjadi 6,1% bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri domestik melalui kolaborasi teknologi dan rantai pasok global.
Energi Bersih dan Kedaulatan Ekonomi
Selain perdagangan barang, kemitraan strategis ini mencakup sektor energi masa depan. Kanada berencana menggandakan jaringan energinya dalam 15 tahun ke depan dengan bantuan investasi dari China, terutama di bidang:
- Tenaga Angin Lepas Pantai: Pemanfaatan teknologi China untuk proyek energi terbarukan.
- Ekspor LNG: Kanada menargetkan produksi 50 juta ton LNG per tahun pada 2030, yang seluruhnya akan dialokasikan untuk pasar Asia.
China Dianggap Lebih "Dapat Diprediksi" Ketimbang AS
Salah satu pernyataan Carney yang paling mencolok adalah penilaiannya mengenai stabilitas mitra dagang. Di bawah kepemimpinan Trump yang volatil—bahkan sempat menyebut Kanada sebagai "negara bagian ke-51"—Carney melihat Beijing sebagai mitra yang lebih konsisten secara diplomatik dalam beberapa bulan terakhir.
"Dalam konteks evolusi hubungan kami, China terbukti lebih dapat diprediksi, dan hasilnya bisa kita lihat sekarang," ujar Carney.
Selain isu ekonomi, Carney dan Xi Jinping juga membahas topik sensitif seperti Greenland. Langkah ini tampaknya merupakan respons terhadap klaim teritorial Trump atas wilayah Denmark tersebut, yang dianggap banyak pihak sebagai ancaman terhadap stabilitas NATO di wilayah Utara.
Analisis Geopolitik: Pragmatisme di Tengah Persaingan Kekuatan Besar
Para analis menilai bahwa meskipun Kanada mulai "mesra" dengan China, Ottawa tidak akan sepenuhnya meninggalkan Washington. Sebagai anggota inti G7 dan sekutu intelijen AS, ketergantungan keamanan Kanada masih sangat kuat pada Amerika.
Namun, kebijakan ekonomi otonom ini mengirimkan pesan kuat ke Gedung Putih: jika AS terus menekan sekutu terdekatnya dengan tarif, negara-negara tersebut akan mencari alternatif di tempat lain. Bagi Beijing, kesepakatan ini adalah bukti bahwa strategi "decoupling" (pemutusan hubungan ekonomi) yang dipimpin AS tidak diterima secara universal oleh mitra terdekatnya.

Posting Komentar