Proyeksi IHSG 14 Januari: Menakar Kekuatan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Daftar Isi
Proyeksi IHSG 14 Januari: Menakar Kekuatan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami pergerakan yang cenderung terbatas pada perdagangan hari ini, Rabu (14/1). Tantangan utama datang dari pasar valuta asing, di mana nilai tukar Rupiah terpantau masih terdepresiasi hingga menembus angka Rp16.877 per Dolar AS di pasar spot.
Sebelumnya, pada penutupan Selasa (13/1), IHSG berhasil menguat 0,72% dan bertengger di posisi 8.948, meskipun sempat mengalami fluktuasi yang cukup tajam sepanjang jam perdagangan.
Sebelumnya, pada penutupan Selasa (13/1), IHSG berhasil menguat 0,72% dan bertengger di posisi 8.948, meskipun sempat mengalami fluktuasi yang cukup tajam sepanjang jam perdagangan.
Analisis Teknis: Area Konsolidasi dan Level Kunci
Menurut riset terbaru dari Phintraco Sekuritas, ruang untuk kenaikan lanjutan IHSG secara teknikal saat ini masih tergolong sempit. Berikut adalah beberapa poin teknikal yang perlu dicermati:
- Rentang Konsolidasi: Indeks diperkirakan akan bergerak di kisaran 8.840 hingga 9.000. Level 9.000 menjadi penghalang psikologis yang kuat.
- Indikator Momentum: Histogram MACD menunjukkan adanya penyempitan pola positif, sementara Stochastic RSI mulai bergerak turun menuju zona pivot.
- Batas Aman (Support): Selama IHSG mampu bertahan di atas level 8.730, fase koreksi yang terjadi dinilai masih dalam batas kewajaran.
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan area resistance di rentang 8.970-9.000 dengan dukungan terdekat (support) pada level 8.860.
Sentimen Pendorong: Kebijakan Biodiesel dan Modal Asing
Meski dibayangi tekanan makro, terdapat beberapa sentimen positif yang dapat menjaga kepercayaan investor:
- Sektor Perkebunan: Pemerintah berkomitmen menjalankan mandatori B40 tahun ini, dengan kajian B50 yang ditargetkan rampung pada semester kedua. Hal ini diprediksi akan memperkuat fundamental saham-saham emiten kelapa sawit (CPO).
- Arus Modal Masuk: Pada perdagangan kemarin, pasar didukung oleh aksi beli bersih investor asing (net foreign buy) yang mencapai Rp1,45 triliun, menunjukkan minat asing yang masih terjaga.
Waspadai Faktor Risiko Eksternal
Para analis mengingatkan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham. Beberapa risiko global dan domestik yang patut diantisipasi antara lain:
- Pelemahan Rupiah: Posisi Rupiah saat ini merupakan yang terlemah sejak April 2025, yang dapat memicu kekhawatiran terhadap biaya impor dan inflasi.
- Geopolitik & Komoditas: Eskalasi ketegangan dunia serta fluktuasi harga komoditas strategis seperti minyak bumi dan emas akan terus membayangi arah gerak pasar modal dalam jangka pendek.

Posting Komentar