Harga Saham Melonjak Tak Wajar, BEI Hentikan Sementara Perdagangan RLCO

Daftar Isi

Harga Saham Melonjak Tak Wajar, BEI Hentikan Sementara Perdagangan RLCO

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara perdagangan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO). Kebijakan suspensi tersebut mulai berlaku pada sesi pertama perdagangan Rabu, 21 Januari 2026.

Keputusan ini diambil menyusul lonjakan harga saham RLCO yang dinilai sangat signifikan dalam waktu relatif singkat. Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, menjelaskan bahwa penghentian perdagangan dilakukan sebagai bagian dari pengawasan pasar.

Upaya BEI Menjaga Stabilitas dan Perlindungan Investor

BEI menegaskan bahwa langkah suspensi ini bertujuan memberikan waktu bagi investor untuk mencermati informasi yang tersedia sebelum kembali melakukan transaksi. Selain itu, kebijakan ini juga dimaksudkan untuk menjaga keteraturan dan kewajaran perdagangan di bursa.

Penghentian sementara perdagangan saham RLCO berlaku di pasar reguler maupun pasar tunai dan akan berlangsung hingga ada pengumuman lanjutan dari BEI. Bursa juga mengimbau seluruh pelaku pasar untuk terus mengikuti keterbukaan informasi yang disampaikan oleh emiten terkait.

Kinerja Saham RLCO Melejit Tajam

Sebelum disuspensi, saham RLCO menunjukkan pergerakan harga yang sangat agresif. Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), harga saham perusahaan tersebut naik 20 persen dan bertengger di level Rp 8.700 per saham.

Jika ditarik ke belakang, dalam periode sekitar satu bulan terakhir, saham RLCO telah mencatatkan kenaikan kumulatif lebih dari 900 persen. Perlu diketahui, emiten yang bergerak di bisnis sarang burung walet ini baru resmi melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana (IPO) pada 8 Desember 2025.

Target Kinerja Keuangan RLCO Tahun 2026

Di tengah volatilitas pergerakan sahamnya, manajemen RLCO mematok target kinerja yang cukup ambisius untuk tahun 2026. Direktur Keuangan RLCO, Dwiadi Prastian Hadi, menyampaikan bahwa perseroan optimistis dapat meningkatkan kinerja keuangan setelah memperoleh tambahan modal dari IPO.

Perusahaan menargetkan laba bersih sebesar Rp 40 miliar pada 2026, meningkat dibandingkan estimasi laba tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 30 miliar. Dari sisi pendapatan, RLCO memproyeksikan penjualan dapat mencapai Rp 700 miliar, naik dari target 2025 yang sekitar Rp 600 miliar. Selain itu, perseroan juga berencana meningkatkan tingkat pemanfaatan pabrik hingga melampaui 60 persen.

Fokus Ekspansi dan Produk Bernilai Tambah

Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, mengungkapkan bahwa strategi pertumbuhan ke depan tidak lagi hanya mengandalkan penjualan bahan baku. Perseroan mulai mengembangkan produk olahan sarang burung walet dengan merek sendiri untuk meningkatkan nilai tambah.

Beberapa langkah yang disiapkan antara lain ekspansi ke sejumlah pasar internasional seperti Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat, penguatan strategi pemasaran merek, serta pengembangan produk siap konsumsi. Melalui strategi hilirisasi ini, RLCO berharap dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan memperluas pangsa pasar global.

Posting Komentar