Polemik Penembakan Pelajar SMK di Semarang: Versi Polisi Berhadapan dengan Tuntutan Keadilan Keluarga
Polemik Penembakan Pelajar SMK di Semarang: Versi Polisi Berhadapan dengan Tuntutan Keadilan Keluarga
Kasus penembakan yang menewaskan seorang pelajar SMK di Semarang kini menjadi perhatian serius publik dan parlemen. Komisi III DPR RI menggelar rapat penting bersama jajaran Polda Jawa Tengah dan Polrestabes Semarang pada Selasa (3/12) guna mengurai duduk perkara tewasnya Gamma Rizkynata Oktafandy (17), siswa SMKN 4 Semarang, akibat tembakan yang dilepaskan oleh Aipda Robig Zaenuddin, anggota Satresnarkoba Polrestabes Semarang.
Rapat tersebut menjadi ajang adu argumentasi antara penjelasan aparat kepolisian dan keberatan yang disampaikan pihak keluarga korban.
Versi Aparat: Penembakan Dipicu Dugaan Tawuran
Dalam pemaparannya, Kapolrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar kembali menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi dalam konteks tawuran antar-pelajar. Kepolisian menyatakan tindakan anggota di lapangan dilakukan berdasarkan situasi yang dianggap membahayakan.
-
Rekaman Visual
Polisi mengklaim telah mengamankan sejumlah bukti berupa CCTV dari lokasi kejadian serta dokumentasi visual lain yang merekam aktivitas kelompok remaja pada malam itu. -
Uji Forensik
Seluruh bukti digital tersebut, menurut Polda Jawa Tengah, akan dianalisis di laboratorium forensik sebagai bagian dari proses pembuktian hukum di persidangan.
Keluarga Merasa Dipinggirkan dalam Forum DPR
Berbanding terbalik dengan klaim kepolisian, keluarga Gamma justru mengaku tidak diberi ruang yang layak untuk menyampaikan pandangan mereka dalam Rapat Dengar Pendapat tersebut.
-
Akses Daring Terputus
Perwakilan keluarga, Subambang, menyebut tautan Zoom yang disediakan sekretariat DPR tidak dapat diakses. Akibatnya, keluarga kehilangan kesempatan menyampaikan keterangan secara langsung. -
Narasi Dinilai Menyudutkan Korban
Keluarga menolak keras anggapan bahwa Gamma merupakan pemicu tawuran atau pembawa senjata tajam. Mereka menegaskan adanya perbedaan lokasi antara titik terjadinya tawuran dan lokasi penembakan.
Sosok Gamma di Mata Keluarga: Bukan Pelaku Kekerasan
Ayah Gamma, Andi Prabowo, dengan tegas membantah stigma negatif yang dilekatkan pada anaknya. Ia mengenang Gamma sebagai remaja yang aktif dan berprestasi.
-
Kegiatan Positif
Malam sebelum kejadian, Gamma berpamitan untuk mengikuti latihan silat rutin, aktivitas yang telah dijalaninya beberapa kali dalam sepekan. -
Pencarian Penuh Kecemasan
Ketika Gamma tak kunjung pulang hingga larut malam, Andi berupaya mencarinya dengan berkeliling dan menghubungi ponsel anaknya berulang kali, sebelum kabar duka diterima keesokan harinya. -
Cita-cita yang Terhenti
Gamma dikenal sebagai anggota Paskibra sekolah dan bercita-cita menjadi prajurit TNI.
“Anak saya sudah meninggal, tapi masih dituduh sebagai pelaku kekerasan. Itu sangat melukai kami,” tutur Andi dengan nada penuh kesedihan.
Dugaan Kejanggalan dan Langkah Hukum Lanjutan
Keluarga korban juga mengungkap sejumlah hal yang mereka anggap tidak masuk akal dalam proses penanganan perkara:
-
Identitas Korban
Polisi menyatakan kesulitan menghubungi keluarga, namun pihak keluarga menegaskan Gamma selalu membawa KTP di tasnya, yang kini dijadikan barang bukti. -
Soal Senjata Tajam
Rekaman CCTV minimarket yang dikantongi keluarga disebut tidak menunjukkan adanya senjata tajam yang dibawa Gamma maupun teman-temannya. -
Permintaan Video “Pengikhlasan”
Paman Gamma, Agung, mengungkap bahwa Kapolrestabes Semarang sempat mendatangi rumah duka dan meminta keluarga membuat video pernyataan menerima kejadian tersebut, namun permintaan itu langsung ditolak.
Sebagai langkah lanjutan, keluarga telah melaporkan kasus ini ke Komnas HAM dan Kompolnas, dengan harapan penyelidikan berjalan objektif, transparan, dan bebas dari rekayasa.


Posting Komentar