Tak Hanya Emas, Perak Ikut Melonjak: Harga Naik 7% dan Tembus US$100
Tak Hanya Emas, Perak Ikut Melonjak: Harga Naik 7% dan Tembus US$100
Jakarta – Kenaikan harga logam mulia tidak hanya terjadi pada emas. Perak juga ikut mencuri perhatian setelah mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan akhir pekan ini. Lonjakan tersebut didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global serta ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026) berada di level US$102,95 per troy ons, melesat 7,04% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, harga perak telah melonjak tajam dengan kenaikan sekitar 14,46% secara point-to-point.
Capaian tersebut menandai level all time high (ATH) baru bagi perak, seiring meningkatnya minat investor terhadap logam mulia di tengah ketidakpastian global.
Investor Cari Alternatif Selain Emas
Sejalan dengan emas, reli harga perak dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di sejumlah negara Barat dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, pelaku pasar juga mulai melirik perak sebagai alternatif investasi di tengah melonjaknya harga emas, meskipun perak tidak sepenuhnya dikategorikan sebagai aset safe haven.
Analis pasar senior di Tradu, Nikos Tzabouras, menilai perak memiliki daya tarik fundamental yang kuat.
“Perak mungkin bukan aset cadangan seperti emas, tetapi tetap diuntungkan oleh arus dana lindung nilai, pelemahan dolar, dan narasi fundamental yang saat ini justru lebih menarik,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/1/2026).
Geopolitik dan Prospek Suku Bunga Jadi Pemicu
Ketegangan global kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah mengamankan akses penuh dan permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Di sisi lain, NATO menegaskan pentingnya penguatan keamanan di kawasan Arktik untuk mengantisipasi pengaruh Rusia dan China.
Namun, rincian kesepakatan tersebut masih belum jelas, sementara Denmark tetap menegaskan bahwa status kedaulatan Greenland tidak dapat dinegosiasikan.
Ketegangan geopolitik yang berlangsung sejak awal Januari 2026, termasuk gejolak di Venezuela dan isu Greenland, membuat investor tidak hanya memburu emas, tetapi juga mulai mengalihkan perhatian ke perak.
Dari sisi ekonomi, laporan terbaru Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS menunjukkan belanja konsumen meningkat pada Oktober dan November 2025, mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang solid selama tiga kuartal berturut-turut.
Meski demikian, pasar memperkirakan The Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali masing-masing 25 basis poin pada paruh kedua tahun ini. Kondisi suku bunga rendah secara historis cenderung mendukung kinerja logam mulia, termasuk emas dan perak.
Dengan kombinasi ekspektasi pelonggaran moneter, tekanan terhadap dolar AS, serta dinamika geopolitik yang belum mereda, perak diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren positifnya dalam waktu dekat.

Posting Komentar