AS Beri Peringatan Keras ke Iran Usai Perundingan, Ketegangan Kian Memanas

Daftar Isi

AS Beri Peringatan Keras ke Iran Usai Perundingan, Ketegangan Kian Memanas

Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menyampaikan peringatan terbuka agar Teheran segera mencapai kesepakatan dengan Presiden Donald Trump. Langkah ini muncul di tengah sinyal berulang soal kemungkinan opsi militer serta penambahan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Peringatan tersebut disampaikan sehari setelah kedua negara menyelesaikan putaran kedua perundingan tidak langsung yang dimediasi Oman di Jenewa. Jalur diplomasi ini sebelumnya sempat terhenti akibat eskalasi konflik militer tahun lalu.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Iran akan mengambil langkah bijak jika memilih mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump. Pernyataan itu mempertegas posisi Washington yang menuntut komitmen jelas dari Teheran.

Isyarat Opsi Militer

Di saat yang sama, Trump kembali memberi sinyal keras melalui platform Truth Social miliknya. Ia menyinggung kemungkinan tindakan militer jika Iran tidak menunjukkan sikap kooperatif dalam perundingan.

Trump juga menyoroti pentingnya pangkalan udara Diego Garcia di Kepulauan Chagos, Samudra Hindia, yang dinilai strategis apabila dibutuhkan untuk merespons potensi ancaman dari Iran. Pernyataan ini semakin memperkuat kesan bahwa opsi militer tetap terbuka.

Ketegangan antara kedua negara sebelumnya meningkat setelah serangan mendadak Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu memicu konflik bersenjata selama hampir dua pekan. Washington kala itu turut melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas nuklir Iran.

Respons Teheran

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak menghendaki perang, namun juga tidak akan tunduk pada tekanan dari luar.

Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Teheran tengah menyusun kerangka pembicaraan lanjutan dengan AS dan telah menyepakati sejumlah prinsip dasar sebagai panduan negosiasi.

Namun dari pihak Washington, Wakil Presiden JD Vance menyatakan Iran belum sepenuhnya mengakui batasan atau “garis merah” yang ditetapkan AS dalam isu nuklir.

Araghchi juga melakukan komunikasi dengan Rafael Grossi, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA). Hubungan Teheran dan badan pengawas nuklir PBB itu tengah memanas, terutama setelah Iran membatasi akses inspeksi di sejumlah lokasi yang terdampak serangan.

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan Washington akan mencegah Iran memiliki senjata nuklir dengan cara apa pun, menilai hal tersebut sebagai ancaman yang tidak dapat diterima.

Unjuk Kekuatan di Laut

Di tengah proses diplomasi, AS memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan berada ratusan kilometer dari pantai Iran, sementara pengiriman kapal induk tambahan telah diperintahkan.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global. Selat tersebut kerap menjadi titik sensitif dalam setiap ketegangan antara Iran dan Barat.

Dengan situasi diplomasi yang rapuh dan kekuatan militer yang terus dikerahkan di lapangan, peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Namun, risiko eskalasi konflik juga semakin sulit untuk diabaikan. 

Posting Komentar