BNPT: 230 Orang Ditangkap karena Danai Kelompok Teroris, Ratusan Lainnya Disidangkan

Daftar Isi

BNPT: 230 Orang Ditangkap karena Danai Kelompok Teroris, Ratusan Lainnya Disidangkan


JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan bahwa sepanjang periode 2023 hingga 2025, sebanyak 230 orang ditangkap karena diduga memberikan dukungan pendanaan kepada kelompok teroris.

Direktur Penindakan BNPT Brigjen Mochamad Rosidi menjelaskan, selain penangkapan tersebut, terdapat 362 orang yang telah menjalani proses persidangan terkait aktivitas terorisme. Mayoritas dari mereka disebut memiliki keterkaitan dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

“Sebanyak 230 orang diamankan karena membantu pendanaan kelompok teroris. Di luar itu, 362 orang telah disidangkan dan sebagian besar terafiliasi dengan ISIS,” ujar Rosidi.

Puluhan Serangan Digagalkan

Dalam kurun waktu yang sama, BNPT juga mencatat keberhasilan aparat dalam mencegah 27 rencana aksi teror. Selain itu, terdapat 11 perempuan yang terlibat dalam aktivitas terorisme di Indonesia.

Rosidi memaparkan bahwa keterlibatan perempuan dalam jaringan terorisme beragam, mulai dari menjadi admin grup media sosial, memproduksi konten propaganda, menggalang dana, hingga mengoordinasikan komunikasi antaranggota kelompok.

Penyalahgunaan Ruang Digital Meningkat

BNPT juga menyoroti maraknya pemanfaatan ruang digital untuk kegiatan terorisme. Tercatat ada 137 pelaku aktif yang menyalahgunakan platform digital untuk menyebarkan ideologi maupun mendukung aktivitas teror.

Selain itu, 32 orang diketahui terpapar secara daring hingga bergabung dengan jaringan teroris, sementara 17 lainnya melakukan aktivitas terorisme di ruang digital tanpa terhubung langsung dengan jaringan tertentu.

Menurut Rosidi, pola pendanaan terorisme kini semakin adaptif mengikuti perkembangan teknologi. Dalam periode tersebut, terdapat 16 kasus pendanaan dengan berbagai metode penggalangan dana, dengan total nilai yang bisa mencapai Rp 5 miliar.

Peringatan Soal Ancaman Teror

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia, mengingatkan bahwa kondisi tanpa serangan bukan berarti ancaman telah hilang.

Ia menegaskan bahwa capaian zero attack tidak boleh membuat publik lengah. “Statistik nol serangan jangan sampai membuat kita terlena. Justru ketika masyarakat merasa aman, ancaman bisa saja sedang dibangun,” ujarnya.

BNPT menekankan bahwa kewaspadaan serta pengawasan, terutama di ruang digital, tetap menjadi kunci dalam mencegah berkembangnya jaringan terorisme di Indonesia.

Posting Komentar