Iran dan Amerika Serikat Mulai Perundingan, Penentu Damai atau Pecah Perang

Daftar Isi

Iran dan Amerika Serikat Mulai Perundingan, Penentu Damai atau Pecah Perang


TEHERAN – Pejabat tinggi Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar perundingan penting di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2026). Pertemuan ini dipandang krusial karena akan menentukan apakah kedua negara mampu mencapai kesepakatan diplomatik atau justru terjerumus ke konflik militer terbuka.

Pemerintah Iran menginginkan pembahasan difokuskan semata-mata pada program nuklirnya. Sebaliknya, Amerika Serikat menuntut agenda yang lebih luas, termasuk pembatasan pengembangan rudal balistik Iran, sebuah tuntutan yang juga sejalan dengan kepentingan Israel.

Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan meningkat tajam setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman akan melancarkan serangan udara terhadap Iran apabila tidak tercapai kesepakatan. Washington bahkan telah mengerahkan ribuan personel militer serta memperkuat kehadiran armada laut dan udara di kawasan Timur Tengah, termasuk kapal induk dan jet tempur.

Menanggapi hal tersebut, Iran menyatakan tidak akan tinggal diam. Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan kekuatan penuh, termasuk dengan menyasar kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah serta Israel.

Delegasi Iran dalam perundingan ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang sebelumnya menyatakan bahwa militer negaranya berada dalam kondisi siap tempur. Sementara dari pihak AS, pembicaraan akan diwakili oleh utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner, menantu Presiden Trump.

Pertemuan di Oman ini menjadi kontak langsung pertama antara pejabat senior AS dan Iran sejak konflik bersenjata antara Iran dan Israel pada Juni lalu. Dalam konflik tersebut, Amerika Serikat turut terlibat dengan melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir utama milik Iran.

Pasca-serangan itu, Iran mengklaim telah menghentikan sementara aktivitas pengayaan uranium. Namun demikian, situasi politik di dalam negeri Iran masih berada di bawah tekanan berat.

Bagi para pemimpin Iran, yang kini menghadapi tekanan ekonomi dan sosial, perundingan ini dinilai sebagai peluang terakhir untuk menghindari aksi militer AS yang berpotensi mengguncang stabilitas rezim. Sejumlah analis bahkan menilai posisi pemerintahan Iran saat ini sebagai yang terlemah sejak Revolusi Islam 1979.

Ancaman Trump muncul bersamaan dengan tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang demonstrasi besar yang dipicu krisis ekonomi berkepanjangan. Para pengunjuk rasa dilaporkan menyerukan perubahan mendasar dalam sistem pemerintahan Republik Islam.

Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Washington, sedikitnya 6.883 orang tewas dalam berbagai insiden terkait penindakan aparat. Lembaga tersebut juga mencatat lebih dari 50.000 orang ditangkap, dengan kemungkinan angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Ketegangan yang terjadi kembali mengangkat isu lama mengenai program nuklir Iran, yang selama bertahun-tahun menjadi sumber perselisihan dengan negara-negara Barat. Iran bersikeras bahwa program tersebut bersifat damai, sementara AS dan Israel menudingnya sebagai upaya terselubung untuk mengembangkan senjata nuklir.

Teheran juga menegaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium di dalam negeri serta menolak permintaan agar sekitar 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dipindahkan ke negara ketiga.

Militer Iran Tegaskan Kesiapan Hadapi Perang

Sehari menjelang perundingan, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, juru bicara militer Iran, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk opsi perang.

Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan pengumuman penambahan 1.000 unit drone ke arsenal militer Iran. Akraminia menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi ancaman musuh.

“Jika pihak lawan memilih jalur perang, maka kami siap menghadapi perang dalam kondisi apa pun,” ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa konflik tidak akan terbatas pada satu wilayah, melainkan dapat meluas ke seluruh kawasan, termasuk pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk Persia dan Laut Oman.

Di sisi lain, ketegangan semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyita dua kapal tanker minyak beserta awak asingnya di perairan Teluk dengan tuduhan penyelundupan bahan bakar.

Sementara itu, Israel juga meningkatkan kewaspadaan. Kepala Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Tomer Bar, menyatakan bahwa militer Israel terus memperkuat kesiapan pertahanan dan kemampuan serangan di tengah situasi yang kian tidak menentu.

“Setiap hari kami meningkatkan kesiapan, baik untuk bertahan maupun menyerang,” kata Bar saat meninjau sistem pertahanan udara Iron Dome di wilayah utara Israel.

Posting Komentar