Ketegangan AS-Iran Meningkat, Selat Hormuz Jadi Sorotan

Daftar Isi

Ketegangan AS-Iran Meningkat, Selat Hormuz Jadi Sorotan

JAKARTA – Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menggelar latihan militer di kawasan strategis Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran menyebut latihan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman keamanan maupun militer di wilayah perairan itu. Latihan dipimpin Kepala Garda Jenderal Mohammad Pakpour dan disebut difokuskan pada peningkatan respons cepat pasukan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut, sehingga setiap eskalasi di kawasan itu berdampak langsung pada pasar energi internasional.

AS Kerahkan Kekuatan Militer

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Dua kapal induk, yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, telah dikerahkan ke kawasan tersebut.

Selain itu, peningkatan aktivitas militer AS juga terpantau di sejumlah pangkalan di negara Arab, termasuk di Qatar.

Sejumlah politikus garis keras Iran sebelumnya berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz apabila terjadi serangan terhadap negaranya.

Upaya Diplomasi Berlanjut

Ketegangan ini terjadi di tengah rencana pertemuan lanjutan antara Teheran dan Washington di Jenewa yang dimediasi oleh Oman. Kedua negara yang telah bermusuhan selama lebih dari empat dekade itu berupaya melanjutkan dialog terkait isu nuklir dan sanksi.

Presiden AS Donald Trump disebut mendorong agar Iran segera mencapai kesepakatan baru. Ia juga membahas isu tersebut dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington.

Iran Tawarkan Kerja Sama Ekonomi

Iran menyatakan terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang memberikan keuntungan ekonomi bagi kedua pihak. Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, menyebut potensi kerja sama bisa mencakup investasi di ladang minyak dan gas, pertambangan, hingga pembelian pesawat.

Pernyataan serupa disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Takht-Ravanchi, yang menegaskan kesiapan negaranya untuk berkompromi dalam program nuklir asalkan sanksi dicabut.

Pejabat nuklir Iran juga mengisyaratkan kemungkinan pengurangan tingkat pengayaan uranium tertinggi sebagai bentuk fleksibilitas. Namun, Teheran tetap menolak tuntutan pengayaan nol persen, sembari menegaskan bahwa program nuklirnya tidak ditujukan untuk pengembangan senjata.

Posting Komentar