Mengapa Lagu Tertentu Bisa Tiba-Tiba Memicu Anxiety? Ini Penjelasan dari Sisi Ilmiah

Daftar Isi

Mengapa Lagu Tertentu Bisa Tiba-Tiba Memicu Anxiety? Ini Penjelasan dari Sisi Ilmiah

Jakarta — Jagat media sosial belakangan ramai membicarakan kisah seorang perempuan yang mendadak mengalami serangan kecemasan hanya karena mendengar lagu tertentu diputar di ruang umum. Dari perspektif kesehatan mental, fenomena ini bukan hal aneh dan memiliki dasar ilmiah yang jelas. Musik atau suara tertentu memang dapat berfungsi sebagai pemicu trauma yang tersimpan di otak, sehingga anxiety bisa muncul kembali secara tiba-tiba meskipun kejadian traumatisnya sudah lama berlalu.

Cerita tersebut menjadi perhatian publik setelah dibagikan melalui platform TikTok. Dalam unggahannya, perempuan itu mengisahkan bagaimana rasa cemas yang sebelumnya relatif terkendali mendadak muncul saat sebuah lagu yang berkaitan dengan pengalaman pahit masa lalunya terdengar. Situasi itu membuatnya merasa terancam dan tidak aman di tengah keramaian.

Dalam kajian kesehatan mental, respons semacam ini tidak dapat dianggap sebagai reaksi berlebihan. Berbagai penelitian di bidang psikologi dan psikiatri menjelaskan bahwa trauma tersimpan di otak sebagai memori emosional. Ketika memori tersebut terpicu oleh rangsangan tertentu—termasuk musik—tubuh dapat bereaksi seolah-olah peristiwa traumatis itu terjadi kembali, sehingga anxiety muncul tanpa disadari.


Bagaimana Lagu Bisa Menjadi Pemicu Anxiety?

Secara biologis, trauma tidak hanya disimpan sebagai ingatan naratif, tetapi juga sebagai emosi dan sensasi tubuh. Otak memiliki bagian bernama amigdala yang berfungsi mendeteksi ancaman. Saat lagu tertentu terdengar dan diasosiasikan dengan pengalaman buruk di masa lalu, amigdala dapat langsung mengaktifkan respons darurat atau fight-or-flight.

Akibatnya, tubuh bereaksi seolah berada dalam situasi berbahaya, meskipun secara logika tidak ada ancaman nyata. Berbagai studi dalam jurnal ilmiah internasional menunjukkan bahwa pada individu dengan riwayat trauma atau gangguan stres pascatrauma (PTSD), suara dan musik memang dapat memicu respons stres yang kuat. Gejalanya bisa berupa jantung berdebar, napas terasa pendek, rasa panik, hingga ketegangan tubuh.

Sejumlah penelitian juga menyoroti manfaat teknik sederhana seperti grounding, yakni mengarahkan perhatian pada napas, sensasi tubuh, atau objek di sekitar. Pendekatan ini membantu sistem saraf keluar dari kondisi siaga berlebihan dan secara perlahan kembali ke keadaan yang lebih stabil.

Respons ini bukanlah tanda kelemahan mental atau sikap berlebihan, melainkan reaksi biologis nyata dari sistem saraf terhadap trauma. Namun perlu dipahami, setiap orang memiliki pemicu dan intensitas respons yang berbeda-beda.


Lingkungan Sekitar Bisa Memperparah atau Membantu Pemulihan

Selain dipicu oleh lagu atau suara tertentu, proses pemulihan trauma sangat dipengaruhi oleh respons orang-orang terdekat. Keluarga, pasangan, maupun lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membantu penyintas merasa aman kembali.

Dalam literatur kesehatan mental, kurangnya empati, sikap meremehkan perasaan, atau pembelaan terhadap pelaku justru dapat memperdalam luka psikologis. Kondisi ini dikenal sebagai secondary trauma, yakni trauma tambahan yang muncul akibat respons lingkungan setelah kejadian awal.

Penelitian menunjukkan bahwa penyintas yang tidak mendapatkan validasi emosional cenderung mengalami gejala kecemasan yang lebih berat dan berkepanjangan. Tekanan untuk “melupakan saja”, pengabaian perasaan, atau paparan pemicu yang berulang dapat membuat sistem saraf terus berada dalam mode siaga, sehingga proses pemulihan menjadi semakin sulit.

Padahal, rasa aman bukan hanya soal menjauh dari sumber trauma, tetapi juga tentang berada di lingkungan yang menghargai batasan, memahami pemicu, dan memberi ruang bagi penyintas untuk pulih sesuai ritme mereka sendiri.


Sikap yang Bisa Dilakukan Orang Terdekat

Peran orang di sekitar penyintas sangat menentukan. Beberapa langkah sederhana namun bermakna yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mendengarkan dengan empati tanpa menghakimi atau menyalahkan

  • Tidak meremehkan perasaan atau memaksa untuk “move on”

  • Menghormati batasan serta menghindari pemicu yang diketahui

  • Memberikan rasa aman dan dukungan, bukan tekanan

  • Mendorong bantuan profesional dengan pendekatan yang hangat dan tidak memaksa

Bagi banyak penyintas, merasa dipercaya dan dilindungi oleh lingkungan terdekat sering kali menjadi fondasi awal dalam proses pemulihan.


Kapan Anxiety Akibat Trigger Perlu Ditangani Profesional?

Tidak semua kecemasan akibat pemicu memerlukan penanganan medis. Namun, bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan jika anxiety muncul berulang, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Serangan cemas yang sering muncul tanpa pola jelas

  • Pemicu yang tampak sederhana, seperti lagu atau situasi sosial

  • Gejala fisik berat seperti sesak napas, jantung berdebar hebat, atau pusing

  • Perilaku menghindari tempat umum atau menarik diri dari lingkungan

Penelitian juga menunjukkan bahwa trauma yang tidak ditangani dengan tepat dapat membuat sistem saraf terus berada dalam kondisi waspada, sehingga anxiety berisiko menjadi kronis.

Pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi berbasis trauma, serta terapi regulasi sistem saraf terbukti efektif membantu penyintas mengenali pemicu, menurunkan respons stres, dan membangun kembali rasa aman. Penanganan sejak dini dinilai penting agar trauma tidak terus memengaruhi kualitas hidup.

Di tengah maraknya reaksi publik terhadap kisah viral di media sosial, penting diingat bahwa di balik cerita yang ramai dibicarakan, ada kondisi mental yang nyata dan rentan. Komentar negatif, spekulasi, atau penghakiman justru dapat menjadi beban tambahan bagi penyintas.

Karena itu, sebelum berkomentar di ruang digital, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mengingat bahwa tidak semua luka terlihat. Satu kalimat bisa menjadi penguat, atau justru menambah luka. Empati dan kehati-hatian adalah bentuk dukungan paling sederhana, namun sangat berarti.

Posting Komentar