Update Perundingan Amerika Serikat–Iran: Ada Sinyal Positif, Tapi Ancaman Tetap Membayangi

Daftar Isi

Update Perundingan Amerika SerikatIran: Ada Sinyal Positif, Tapi Ancaman Tetap Membayangi

JAKARTA – Putaran terbaru perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memunculkan harapan baru dalam meredakan krisis nuklir yang telah lama membayangi Timur Tengah. Meski belum menghasilkan kesepakatan final, Teheran menyebut pembicaraan kali ini berlangsung “lebih konstruktif” dibandingkan pertemuan sebelumnya.

Perundingan yang digelar di Jenewa dengan mediasi Oman berlangsung sekitar tiga setengah jam. Fokus utama pembahasan adalah syarat pembatasan program nuklir Iran di bawah pengawasan badan inspeksi nuklir PBB, yakni International Atomic Energy Agency (IAEA).

Iran Klaim Ada Kemajuan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kedua pihak telah menyepakati prinsip-prinsip panduan umum.

“Suasana dalam putaran perundingan ini lebih konstruktif. Kemajuan yang baik telah dicapai dibandingkan pertemuan pertama. Jalan menuju kesepakatan telah dimulai, tetapi itu tidak berarti kita bisa segera mencapai kesepakatan,” ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.

Araghchi menyebut tahap berikutnya adalah pertukaran draf teks kesepakatan sebelum menentukan jadwal pertemuan lanjutan sekitar dua pekan mendatang.

Delegasi Iran juga menawarkan untuk mengencerkan stok 40 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60% serta membuka akses bagi IAEA ke fasilitas nuklir yang terdampak serangan. Namun, Iran tetap menolak melepaskan haknya memperkaya uranium di dalam negeri dan menegaskan tidak akan membahas program rudal balistik maupun dukungan terhadap kelompok sekutu regional.

Sikap Keras dari Washington dan Teheran

Dari pihak AS belum ada pernyataan resmi. Namun Presiden AS, Donald Trump, mengirim sinyal yang saling bertolak belakang. Ia menyebut yakin Iran menginginkan kesepakatan, tetapi juga meningkatkan kehadiran armada laut AS di sekitar Teluk.

Menanggapi pengerahan kapal perang AS di lepas pantai Oman, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menyatakan bahwa AS tidak akan mampu menghancurkan Republik Islam. Ia bahkan melontarkan pernyataan bernada ancaman, menyebut kapal perang memang berbahaya, tetapi ada senjata yang bisa “mengirimkannya ke dasar laut”.

Iran juga mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz untuk latihan militer. Penutupan penuh jalur strategis tersebut berpotensi mengganggu arus pelayaran dan distribusi energi global.

Isu Verifikasi Jadi Kunci

Isu verifikasi menjadi titik krusial dalam perundingan. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, telah bertemu delegasi Iran dan AS secara terpisah. Setiap kesepakatan nantinya akan mensyaratkan kembalinya penuh para inspektur IAEA ke fasilitas nuklir Iran.

Saat ini, hanya sebagian kecil inspektur yang berada di Iran dan belum memiliki akses detail terhadap tingkat kerusakan fasilitas maupun jumlah sentrifugal yang dapat diaktifkan kembali.

Dinamika Politik Internal Iran

Di dalam negeri, situasi Iran juga diliputi ketegangan. Ribuan warga menghadiri peringatan 40 hari korban gelombang protes terbaru. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terlihat menghadiri upacara tersebut di Mashhad.

Sementara itu, kelompok oposisi mulai membentuk “front penyelamatan nasional” yang mengusung transisi demokratis damai tanpa intervensi asing. Nama Mir-Hossein Mousavi kembali mencuat sebagai inspirasi gerakan tersebut, sementara Reza Pahlavi menawarkan diri sebagai figur transisi.

Meski jalur diplomasi kembali terbuka, retorika keras dan manuver militer kedua pihak menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih panjang dan penuh tantangan. 

Posting Komentar