Drone Murah Shahed 136 Jadi Senjata Andalan Iran, Bikin Amerika Serikat dan Israel Kewalahan
Drone Murah Shahed 136 Jadi Senjata Andalan Iran, Bikin Amerika Serikat dan Israel Kewalahan
Konflik di kawasan Timur Tengah memasuki fase baru setelah Iran dilaporkan mengerahkan ribuan drone berbiaya rendah untuk menyerang berbagai target militer dan infrastruktur penting milik lawannya. Strategi ini mengejutkan banyak pihak, termasuk pemerintah Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump lebih banyak menyoroti ancaman dari rudal balistik Iran. Ia bahkan sempat memperingatkan bahwa industri rudal Teheran akan dihancurkan melalui operasi militer yang dilancarkan pada akhir Februari lalu.
Namun perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa ancaman terbesar justru datang dari armada drone Iran yang relatif murah namun efektif.
Serangan Balasan dengan Drone Kamikaze
Beberapa hari setelah operasi militer tersebut dimulai, Iran merespons dengan meluncurkan gelombang drone kamikaze yang menargetkan fasilitas militer dan energi milik sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Salah satu serangan paling mematikan dilaporkan menghantam pangkalan militer AS di Kuwait dan menewaskan sejumlah tentara Amerika. Selain itu, sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi dan Qatar juga menjadi sasaran.
Drone yang paling banyak digunakan adalah model Shahed 136, sebuah pesawat tak berawak dengan desain sederhana tetapi mematikan.
Murah tapi Mematikan
Drone ini diperkirakan memiliki biaya produksi sekitar US$20.000 hingga US$50.000 per unit, jauh lebih murah dibandingkan rudal balistik. Meski hanya membawa hulu ledak sekitar 50 kilogram, senjata ini tetap efektif untuk menghancurkan target strategis.
Keunggulan lain dari drone tersebut adalah kemampuannya terbang rendah sehingga lebih sulit dideteksi oleh sistem radar pertahanan udara.
Menurut analis militer dan mantan pejabat Pentagon Mick Mulroy, efektivitas drone seperti ini sudah terbukti dalam berbagai konflik modern, termasuk perang di Eropa Timur.
AS Kembangkan Versi Tandingan
Melihat efektivitas teknologi tersebut, militer Amerika Serikat kemudian mengembangkan sistem serupa bernama Lucas.
Beberapa unit drone ini dilaporkan mulai dikerahkan oleh militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari strategi balasan terhadap Iran.
Komandan pasukan AS di wilayah tersebut, Brad Cooper, menyatakan bahwa teknologi yang dikembangkan kini bahkan telah dimodifikasi untuk menjadi lebih efektif dibanding versi asli.
Strategi Tekanan Psikologis
Pengamat dari lembaga pemikir American Enterprise Institute, Nicholas Carl, menilai bahwa penggunaan drone murah ini bukan hanya bertujuan menghancurkan target fisik.
Menurutnya, strategi tersebut juga dimaksudkan untuk memaksa Amerika Serikat dan sekutunya mengeluarkan biaya besar karena harus menembakkan rudal pencegat yang jauh lebih mahal untuk menahan serangan drone.
Selain itu, gelombang serangan drone ke wilayah padat penduduk juga dapat menimbulkan tekanan psikologis yang besar bagi pemerintah dan masyarakat.
Intensitas Serangan Mulai Menurun
Meski sempat sangat masif di awal konflik, laporan terbaru menyebutkan bahwa intensitas serangan drone Iran mulai berkurang drastis.
Militer Amerika Serikat mengklaim jumlah peluncuran drone Iran telah turun lebih dari 80 persen, sementara penggunaan rudal balistik juga mengalami penurunan signifikan.
.png)
Posting Komentar