Perang AS–Israel vs Iran Picu Ancaman Ekonomi bagi Amerika

Daftar Isi

Perang AS–Israel vs Iran Picu Ancaman Ekonomi bagi Amerika

JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi membawa dampak serius bagi perekonomian Washington. Lonjakan harga energi global akibat perang disebut dapat memicu inflasi baru dan menekan daya beli masyarakat AS.

Salah satu pemicu utama gejolak pasar adalah terganggunya jalur distribusi energi, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Ketegangan ini membuat harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024.

Harga Bensin Terancam Naik Cepat

Analis Oxford Economics, John Canavan, memperingatkan kenaikan harga minyak global akan segera terasa di tingkat konsumen. Ia menyebut harga bensin di Amerika bisa naik hanya dalam hitungan hari.

Kenaikan biaya energi dinilai akan berdampak luas, mulai dari transportasi hingga distribusi barang. Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar dua pertiga Produk Domestik Bruto (PDB) AS, lonjakan harga energi berisiko menekan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Ekonom ING, James Knightley, menilai dampaknya bisa meluas ke tarif penerbangan, biaya logistik, hingga tarif listrik. Meski AS relatif mandiri dalam produksi gas alam, harga domestik tetap terpengaruh dinamika pasar global.

Risiko Politik bagi Trump

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Presiden Donald Trump. Harga bensin merupakan isu sensitif secara politik di AS, terutama menjelang momentum elektoral.

Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menyebut kenaikan harga energi dapat memukul sentimen konsumen dan memengaruhi pilihan pemilih. “Harga bensin yang lebih tinggi berdampak langsung pada kepercayaan publik,” ujarnya.

Dilema The Fed

Konflik ini juga menempatkan Federal Reserve dalam posisi sulit. Risiko inflasi yang kembali meningkat dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, sementara perlambatan ekonomi justru menuntut pelonggaran kebijakan.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan pihaknya masih mencermati dampak jangka panjang konflik terhadap harga dan stabilitas ekonomi.

Para ekonom menilai jika perang berlangsung lebih lama dari beberapa minggu, tekanan terhadap inflasi dan konsumsi rumah tangga dapat semakin berat. Kondisi ini berpotensi menjadi “bumerang” bagi ekonomi Amerika di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat. 

Posting Komentar