Perang Iran–AS–Israel Berisiko Tekan Ekonomi, KSPI Ingatkan Ancaman PHK

Daftar Isi

Perang Iran–AS–Israel Berisiko Tekan Ekonomi, KSPI Ingatkan Ancaman PHK

Konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi membawa dampak serius terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan bahwa situasi geopolitik tersebut bisa memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Presiden KSPI, Said Iqbal, menjelaskan bahwa perang di kawasan Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia. Risiko ini semakin besar apabila jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz mengalami gangguan.

Menurutnya, kenaikan harga minyak mentah hampir pasti berdampak pada harga BBM domestik. Jika itu terjadi, biaya transportasi dan logistik akan ikut meningkat. Dampak berantai kemudian terasa pada naiknya biaya produksi perusahaan, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok, terutama menjelang hari besar seperti Lebaran.

Selain tekanan dari sisi energi, konflik juga berisiko menghambat aktivitas ekspor Indonesia ke sejumlah kawasan seperti Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Jika pasar ekspor terganggu, produksi dalam negeri bisa menumpuk dan perusahaan terpaksa melakukan penyesuaian operasional.

“Ketika perusahaan melakukan efisiensi, dampaknya biasanya adalah pengurangan tenaga kerja,” tegas Said Iqbal.

Tak hanya itu, sektor industri dalam negeri juga terancam dari sisi pasokan bahan baku. Impor komoditas seperti kapas dari Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Australia berpotensi tersendat atau mengalami kenaikan harga. Industri tekstil dan garmen nasional diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena biaya produksinya meningkat signifikan.

Jika kondisi ini berlangsung, perusahaan kemungkinan besar akan mengambil langkah penghematan, termasuk pengurangan karyawan. KSPI pun menilai konflik Iran–AS–Israel berpotensi memicu PHK dalam skala luas apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Desakan Langkah Antisipasi

KSPI meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan kebijakan preventif guna mengurangi dampak ekonomi global terhadap pekerja Indonesia.

Said Iqbal juga menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memprediksi konflik dapat berlangsung hingga lima minggu. Dalam kurun waktu tersebut, pasar keuangan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dikhawatirkan berada di bawah tekanan, yang dapat memperparah situasi ekonomi nasional.

Sebagai bentuk respons, KSPI bersama Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Partai Buruh berencana mengirimkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, melalui International Labour Organization (ILO).

Melalui surat tersebut, mereka mendorong PBB mengambil langkah konkret untuk meredakan konflik, baik melalui Dewan Keamanan maupun Sidang Umum, demi mencegah dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan pekerja di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Posting Komentar