Pernyataan Iran soal Ancaman Invasi Darat Ditanggapi Trump: Hanya Buang Waktu

Daftar Isi

Pernyataan Iran soal Ancaman Invasi Darat Ditanggapi Trump: Hanya Buang Waktu

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya tidak gentar jika pasukan AS dan Israel melancarkan invasi darat.

Dalam wawancara dengan NBC News dari Teheran, Araghchi menegaskan bahwa Iran siap menghadapi kemungkinan serangan darat tersebut. Ia bahkan mengatakan negaranya tidak takut dan siap menunggu jika operasi militer itu benar-benar dilakukan.

Menurutnya, jika invasi darat terjadi, justru hal itu akan menjadi bencana bagi pihak yang menyerang. Iran, kata Araghchi, memiliki kemampuan untuk menghadapi kekuatan militer gabungan dari AS dan Israel.

Iran Tegaskan Tetap Melawan

Komentar tersebut muncul di tengah konflik yang semakin meluas sejak serangan militer besar yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari 2026.

Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata dan tetap berkomitmen untuk melawan agresi yang dilakukan terhadap negaranya.

Ia juga mengingatkan tentang konflik sebelumnya ketika fasilitas nuklir Iran menjadi target serangan. Dalam konflik tersebut, menurut Araghchi, Israel justru yang lebih dahulu meminta gencatan senjata setelah sekitar dua belas hari pertempuran.

Selain itu, ia turut menyoroti serangan terhadap sebuah sekolah dasar di wilayah Minab, Iran selatan, yang dilaporkan menewaskan 171 anak-anak. Araghchi menuduh serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap warga sipil dan menyalahkan militer AS maupun Israel.

Ia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap proses diplomasi dengan Washington. Menurutnya, Iran memiliki pengalaman buruk dalam negosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat saat ini.

Araghchi mengatakan Iran bahkan pernah berada dalam proses perundingan dengan AS pada tahun lalu dan tahun ini, namun serangan militer justru terjadi di tengah upaya diplomasi tersebut.

Respons Donald Trump

Pernyataan Iran tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Presiden AS, Donald Trump. Dalam wawancara melalui telepon dengan NBC, Trump mengatakan bahwa mengirim pasukan darat ke Iran hanya akan menjadi pemborosan waktu.

Ia menilai Iran telah kehilangan banyak kemampuan militernya, termasuk kekuatan laut dan berbagai aset militer lainnya.

Trump juga menyebut pernyataan Araghchi sebagai komentar yang tidak berarti. Ia mengisyaratkan bahwa perubahan kepemimpinan di Iran mungkin diperlukan setelah konflik ini.

Bahkan, Trump mengklaim telah memiliki gambaran mengenai calon pemimpin baru bagi Iran. Namun ia menolak menyebutkan identitas tokoh tersebut.

Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa dirinya ingin terlibat dalam menentukan arah kepemimpinan Iran setelah serangan militer AS dan Israel dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Ketegangan ini menambah kekhawatiran dunia internasional terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi meluas menjadi perang skala lebih besar. 

Posting Komentar