Prabowo Subianto Tak Mau Gegabah Keluar dari BoP, Pilih Upaya Diplomasi Lebih Dulu

Daftar Isi

Prabowo Subianto Tak Mau Gegabah Keluar dari BoP, Pilih Upaya Diplomasi Lebih Dulu

Presiden Prabowo Subianto disebut tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan untuk menarik Indonesia dari keanggotaan Board of Peace (BoP). Pemerintah memilih mencoba terlebih dahulu memanfaatkan forum tersebut sebagai sarana diplomasi guna mendorong perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, menyampaikan bahwa BoP selama ini diterima Indonesia sebagai salah satu wadah untuk mengupayakan penyelesaian konflik secara damai. Karena itu, pemerintah ingin menguji terlebih dahulu efektivitas forum tersebut sebelum mengambil langkah lebih jauh.

Menurut Nusron, Presiden menilai upaya diplomasi harus dicoba terlebih dahulu. Ia menegaskan bahwa tidak tepat jika Indonesia langsung memutuskan keluar dari forum tersebut sebelum memanfaatkan peluang yang ada untuk mendorong perdamaian.

BoP Dinilai Masih Jadi Forum Strategis

Nusron menjelaskan, saat ini BoP dianggap sebagai satu-satunya forum yang masih tersedia untuk membahas upaya perdamaian terkait konflik Palestina dan Gaza. Karena itu, Indonesia bersama delapan negara lainnya memutuskan untuk tetap berada di dalam forum tersebut.

Presiden, kata Nusron, juga mempertanyakan di mana Indonesia dapat melakukan diplomasi perdamaian jika keluar dari BoP. Tanpa forum yang jelas, upaya perundingan internasional dikhawatirkan justru semakin sulit dilakukan.

Pemerintah Tetap Dengarkan Kritik

Meski demikian, pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik publik yang meminta Indonesia keluar dari BoP. Nusron menegaskan bahwa semua masukan dari masyarakat tetap didengar.

Ia menyebut opsi keluar dari forum tersebut tetap menjadi kemungkinan, namun keputusan akan diambil setelah pemerintah mencermati perkembangan situasi internasional secara lebih mendalam.

Menurutnya, pemerintah ingin membuktikan bahwa diplomasi masih menjadi cara terbaik untuk menciptakan perdamaian global dibandingkan melalui konflik bersenjata.

Muncul Desakan Keluar dari BoP

Desakan agar Indonesia keluar dari BoP muncul setelah serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei.

Peristiwa tersebut memicu kritik terhadap BoP yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump. Beberapa pihak menilai forum tersebut tidak mencerminkan komitmen nyata terhadap perdamaian dan hanya menjadi simbol diplomasi tanpa tindakan konkret.

Padahal, BoP sebelumnya diperkenalkan oleh Trump sebagai alternatif dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dinilai kurang efektif dalam menangani konflik global. Forum ini juga memiliki agenda ambisius, termasuk mendukung stabilitas dunia dan rekonstruksi wilayah konflik seperti Gaza. 

Posting Komentar