Rusia Disebut Berikan Informasi Intelijen ke Iran untuk Targetkan Pasukan AS

Daftar Isi

Rusia Disebut Berikan Informasi Intelijen ke Iran untuk Targetkan Pasukan AS

Jakarta – Rusia dilaporkan memberikan bantuan intelijen kepada Iran terkait posisi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Informasi ini disebut menjadi tanda awal keterlibatan tidak langsung Moskow dalam konflik yang sedang berkembang tersebut.

Mengacu pada laporan The Washington Post, tiga pejabat Amerika Serikat yang mengetahui laporan intelijen tersebut menyatakan bahwa Rusia telah membagikan data penargetan kepada Iran. Bantuan itu mencakup informasi mengenai lokasi aset militer AS, seperti kapal perang dan pesawat tempur.

Bantuan ini dinilai signifikan karena Rusia merupakan salah satu kekuatan besar dunia yang memiliki kemampuan intelijen dan teknologi militer canggih, termasuk persenjataan nuklir.

Sejak konflik dimulai pada Sabtu lalu, para pejabat AS mengatakan Moskow telah memberikan sejumlah informasi posisi militer Amerika kepada Teheran. Namun demikian, sejauh mana tingkat bantuan Rusia terhadap Iran masih belum sepenuhnya jelas.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Pemerintah Rusia sendiri sebelumnya telah menyerukan agar konflik dihentikan dan menyebut perang tersebut sebagai tindakan agresi bersenjata tanpa provokasi.

Sementara itu, pihak CIA dan Pentagon juga tidak memberikan tanggapan mengenai temuan intelijen tersebut.

Ketika dimintai pendapat mengenai sikap Rusia dan China terhadap konflik ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa kedua negara tersebut bukan faktor utama dalam situasi saat ini.

Beberapa pejabat AS juga menyebut bahwa hingga kini China tampaknya tidak memberikan dukungan militer langsung kepada Iran, meskipun hubungan kedua negara dikenal cukup erat. Kedutaan Besar China di Washington sendiri menegaskan bahwa Beijing terus melakukan upaya diplomasi dengan berbagai pihak dan menyerukan agar konflik segera dihentikan.

Para analis menilai pola serangan Iran terhadap target militer Amerika menunjukkan tingkat ketepatan yang cukup tinggi. Target yang diserang antara lain sistem radar, pusat komando dan kendali, serta fasilitas militer sementara.

Serangan tersebut juga dilaporkan menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas militer dan diplomatik AS, termasuk stasiun CIA yang berada di Kedutaan Besar Amerika di Riyadh, Arab Saudi.

Pakar militer Rusia dari Carnegie Endowment for International Peace, Dara Massicot, mengatakan Iran tampaknya menargetkan sistem radar peringatan dini dan struktur komando secara spesifik, menunjukkan operasi yang terencana.

Iran diketahui memiliki keterbatasan dalam jumlah satelit militer. Karena itu, dukungan data dari kemampuan pengintaian ruang angkasa Rusia dianggap sangat berharga bagi Teheran dalam menentukan target.

Nicole Grajewski dari Belfer Center, Harvard Kennedy School, menilai serangan balasan Iran menunjukkan tingkat kecanggihan yang lebih tinggi dibandingkan konflik sebelumnya, bahkan dalam beberapa kasus mampu menembus sistem pertahanan udara milik AS dan sekutunya.

Kerja sama Rusia dan Iran ini dinilai mencerminkan perubahan pola konflik global sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Dalam perang tersebut, sejumlah negara seperti Iran, China, dan Korea Utara diketahui memberikan dukungan militer atau material kepada Moskow.

Sebaliknya, Amerika Serikat juga memberikan bantuan militer bernilai puluhan miliar dolar kepada Ukraina serta berbagi informasi intelijen untuk membantu penargetan pasukan Rusia.

Di sisi lain, Rusia juga diperkirakan memiliki kepentingan strategis dari konflik antara AS dan Iran, termasuk potensi kenaikan harga minyak global serta kemungkinan teralihkan fokus Amerika dan Eropa dari perang di Ukraina. 

Posting Komentar