Trump Tekan Iran untuk Menyerah, Pengamat Nilai AS Salah Perhitungan
Trump Tekan Iran untuk Menyerah, Pengamat Nilai AS Salah Perhitungan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai keliru dalam mengambil langkah perang terhadap Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu. Penilaian ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Trump agar Teheran segera menyerah.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Mohamad Elmasry dari Doha Institute for Graduate Studies. Ia menilai pendekatan Washington didasarkan pada asumsi yang kurang tepat mengenai kemampuan Iran dalam menghadapi konflik.
Menurut Elmasry, Iran justru memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk bertahan dari tekanan militer maupun ekonomi, bahkan dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan. Ia menilai Teheran masih mampu memainkan strategi jangka panjang dan memanfaatkan celah untuk menghadapi blokade yang diberlakukan AS.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Elmasry menyebut anggapan bahwa blokade akan segera melumpuhkan Iran sebagai sesuatu yang berlebihan. Ia mencontohkan laporan terbaru yang menyebut puluhan kapal Iran masih dapat menembus blokade dalam waktu singkat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa isu utama bukan lagi soal kemampuan Iran bertahan, melainkan seberapa besar biaya yang siap ditanggung oleh AS jika konflik berlarut. Perpanjangan konflik dinilai berpotensi memberikan dampak serius terhadap ekonomi global, termasuk Amerika sendiri.
Elmasry juga menilai Iran bersedia menghadapi tekanan ekonomi karena melihat konflik ini sebagai ancaman terhadap kelangsungan negaranya. Dari sudut pandang Teheran, menerima tuntutan AS bisa dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi sistem politik mereka.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut menyindir kebijakan blokade laut yang diterapkan AS. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap sektor energi Iran.
Melalui pernyataan di media sosial, Ghalibaf bahkan menantang agar blokade diperpanjang, sembari menyiratkan bahwa tekanan tersebut tidak mampu melemahkan negaranya seperti yang diperkirakan oleh Washington.

Posting Komentar