Relawan Flotilla Gaza Mengaku Alami Kekerasan Saat Ditahan Militer Israel
Relawan Flotilla Gaza Mengaku Alami Kekerasan Saat Ditahan Militer Israel
Sejumlah aktivis dan relawan pro-Palestina yang mengikuti misi bantuan kemanusiaan menuju Gaza mengaku mengalami perlakuan kasar setelah ditahan oleh militer Israel. Mereka sebelumnya berada dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0 yang dicegat di perairan internasional saat berlayar menuju Gaza.
Beberapa relawan yang telah dideportasi kemudian memberikan kesaksian mengenai dugaan kekerasan fisik maupun seksual selama masa penahanan. Penyelenggara flotilla menyebut terdapat sedikitnya 15 dugaan kasus kekerasan seksual serta berbagai bentuk perlakuan tidak manusiawi lainnya.
Namun, hingga kini tuduhan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional. Pihak otoritas penjara Israel membantah semua tuduhan itu dan menyatakan para tahanan diperlakukan sesuai hukum serta hak-hak dasar mereka tetap dihormati.
Kesaksian Para Aktivis
Salah satu aktivis asal Prancis, Meriem Hadjal, mengaku mengalami pelecehan dan kekerasan fisik selama ditahan. Ia mengatakan dirinya dipukul, ditampar, dijambak, hingga ditendang saat berada dalam tahanan.
Sementara itu, jurnalis Italia Alessandro Mantovani juga mengklaim dirinya dipukuli setelah dipindahkan ke fasilitas penahanan berbentuk kontainer yang ia sebut sebagai tempat penuh intimidasi.
Aktivis asal Inggris, Richard Johan Anderson, menyebut para relawan mendapat perlakuan kasar dan tidak manusiawi selama penahanan berlangsung.
Kelompok hak asasi manusia Adalah mengatakan pihaknya menerima banyak laporan terkait dugaan kekerasan ekstrem terhadap para tahanan. Bahkan, beberapa aktivis dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis akibat cedera.
Reaksi Sejumlah Negara
Pemerintah Indonesia turut mengecam dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap para relawan. Menteri Luar Negeri Sugiono menilai tindakan terhadap misi kemanusiaan sipil tersebut bertentangan dengan hukum humaniter internasional.
Pemerintah Kanada juga menyampaikan kecaman setelah menerima laporan mengenai perlakuan buruk terhadap warganya yang ikut dalam armada tersebut.
Selain itu, pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi adanya sejumlah aktivis yang mengalami luka dan harus menjalani perawatan medis.
Israel Bantah Tuduhan
Pihak Israel menolak semua tuduhan kekerasan yang diarahkan kepada aparatnya. Otoritas penjara Israel menyatakan para tahanan diperlakukan sesuai aturan hukum dan mendapatkan layanan medis jika diperlukan.
Pemerintah Israel juga menilai aksi flotilla tersebut lebih bersifat kampanye publik yang dianggap mendukung Hamas.
Sebelumnya, armada flotilla yang terdiri dari lebih dari 50 kapal berangkat dari Turki dengan tujuan menyalurkan bantuan makanan dan medis ke Gaza. Namun, pasukan Angkatan Laut Israel mencegat rombongan tersebut di wilayah perairan internasional dekat Siprus.

Posting Komentar